![]() |
| Merenung Langit malam |
Membaca mesej darinya membuat hati aku rasa terusik. Aplikasi hijau itu aku tutup rakus. Melemparkan benda pipih di tangan ke atas meja. Dibiarkan terdampar di situ. Aku rimas membaca mesej itu. Sengaja memprovok mindaku.
"Dalam akaun kamu ada tak 30,000. Aku mau tambahin di rekeningku. Aku perlu 150,000 untuk keluarkan dari Atm. Aku mau beli beras dan ikan."
Ayat itu sebenarnya biasa-biasa sahaja. Tapi aku yang menerimanya merasakan ayat itu seperti memerasku. Mempergunakan aku.
Lantas aku ambil kembali telefon itu lalu menggeserkan jemari ke atas skrin. Aplikasi hijau aku buka kembali.
" Maaf, akun aku di blocking. Enggak bisa transfer online."
Hanya beberapa detik kemudian dia membalasnya kembali.
"Okey, kalau begitu aku harus ke Tengerang dengan motor mantet."
Hati aku berbelah bahagi dengan mesej balasan darinya. Aku tahu jarak ke Tengerang memakan masa hampir 1 jam lebih. Kasihan, simpati bahkan rasa sinis silih berganti.
Hanya nilai sebegitu dia mampu? Sedangkan selama ini aku yang menyediakan segala kebutuhannya. Tempat tinggal, segala biaya aku uruskan. Sekali sekala dia berbelanja untuk keperluan dapur sudah sangat aku syukuri. Namun hati aku ralat apabila dia menadah tangan merayuku...
Haruskah aku berubah demi sebuah matlamat yang tak pasti?
(Curhat Seorang Kenalan)

Tiada ulasan:
Catat Ulasan